Renungan Sabtu Suci, 08 April 2023, TRANSFORMASI KEMATIAN MENUJU KEHIDUPAN (Matius 27:57-66)

RENUNGAN SABTU SUCI

Bacaan Alkitab : Ayub 14: 1 - 14, Mazmur 31:1-4; 15-16,  1 Petrus 4: 1 – 8,  Matius 27: 57 -66

 

TRANSFORMASI KEMATIAN MENUJU KEHIDUPAN (Matius 27:57-66)

Hari ini disebut "Sabtu Sunyi untuk melukiskan pengorbanan dan kema Yesus yang membawa kedukaan dan kesendirian. Sebagian menyebutny "Sabtu Suci" karena tindakan agung Allah yang menumpahkan d Anak-Nya demi penebusan dan keselamatan. Sebagai hari antara waktu penyalib kematian dengan waktu kebangkitan/kehidupan Yesus, Sang Anak Manusia, hari gerejawi "Sabtu Sunyi atau Sabtu Suci harus dimaknai serta direnungkan secan sungguh-sungguh dan mendalam sebagai masa transformasi (peralihan) dari kematia dan kedukaan menuju kehidupan dan kemenangan. darah kudus

Tanpa melupakan makna utama tentang penebusan dosa dan keselamatan Matius 27: 57-66 memperlihatkan adanya dua pihak yang memiliki sikap berbeda terhadap aksi pengorbanan Yesus. Pihak pertama adalah Yusuf Arimatea, seorang tokoh terpandang dan kaya. Alih-alih membiarkan jasad Yesus tergantung di salib, da mengambilnya, mengafaninya dengan kain lenan putih bersih, lalu memakamkannya dengan hormat di dalam kubur batu yang baru, seperti tradisi pemakaman Yahudi. Tindakan Yusuf menyampaikan pesan iman bahwa penyaliban dan kematian Yesus merupakan wujud pengorbanan dan cinta kasih. Penyaliban dan kematian Yesus tidak dipandang hina atau diklasifikasikan sebagai penghukuman penjahat. Yusuf telah mentransformasi pandangan hina dan kejahatan tentang Yesus menjadi kabar kehormatan dan kebenaran melalui tradisi pemakaman yang nampaknya sederhana

Pihak kedua adalah para imam kepala dan orang Farisi. Mereka menyangkal iman menaruh kebencian dan kecurigaan bahwa jasad Yesus akan dicuri. Pada Sabtu pagi mereka meminta kepada Pilatus penjagaan ketat terhadap kubur Yesus agar murid- murid Yesus tidak mencuri jasad-Nya lalu mengatakan Yesus telah bangkit.

Ayat 66 menegaskan, para penjaga tidak hanya menjaga, tetapi juga “memeteraikan”. Artinya, penjaga berjaga-jaga dan memenuhi kubur 24 jam. Menariknya kubur yang dimeteraikan itu terbuka dan jasad Yesus tetap "dicuri. Peristiwa ini merupakan bentuk transformasi bahwa kehendak dan kuasa Allah tidak bisa dibatasi oleh kehendak dan kuasa pemimpin agama.

Berita lain pada Sabtu Sunyi/Sabtu Suci adalah kesaksian 1 Petrus 4: 6,". Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani, tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah." Kristus dalam kematian-Nya tetap bergerak di alam maut menyatakan misi Allah. Yesus mati bagi orang hidup, tetapi hidup bagi orang mati. Kematian Kristus merupakan momen transformasi bagi dunia orang mati menuju kehidupan saat la datang kembali. Firman Tuhan dari Matius 27 dan 1 Petrus 4 yang diperkaya dengan Ayub 14 dan Marmur 31 mengajarkan kita nilai dan komitmen iman kepada Yesus Kristus:

   1. Kita diajak berperan aktif memberitakan penyaliban dan kematian Kristus demi penebusan dan keselamatan kita. Yusuf Arimatea berhasil mentransformasi "aku percaya Yesus adalah Kristus" menjadi perilaku menghormati Yesus Kristus. Filosofi sederhananya memotivasi kita untuk terus memberitakan dan mem- perlakukan Yesus sebagai Kristus, Tuhan, dan Juruselamat. Filosopi sederhana ini sekaligus menjadi autokritik agar kita tidak mempermalukan dan menjual "Yesus" dengan perilaku hina dan dosa.

 2. Kematian merupakan momen transformasi untuk menghormati dan memaknai kehidupan. Kematian adalah proses alami realitas yang harus diterima (Ayb. 14). tetapi selagi hidup, kita selalu berlindung dan berharap kepada Allah agar aman dan selamat. Perlindungan dari Allah adalah keharusan (Mzm. 31). Kebangkitan Kristus membuktikan bahwa kematian berakhir dengan kemenangan menuju kehidupan kekal. Kita dipanggil untuk senantiasa menghormati dan memaknai kehidupan. Seperti Kristus, berhadapan dengan duka dan kematian pun merupakan momen transformasi untuk pemberitaan Injil.

3. Pada Hari Sabtu Sunyi/Sabtu Suci ini kita diajak mendengar dan membaca kembali kisah agung Allah yang mengorbankan Putra Tunggal-Nya demi penebusan dan pendamaian. Kita diajak mempersiapkan diri memasuki Hari Paska, hari kemenangan menuju hidup kekal. Momen kita mengingat kasih sejati dan kebaikan tak terbatas Allah dan bersikap serta berperilaku dengan tulus dan cinta seperti Yusuf Arimatea. Momen kita meniadakan sikap menghakimi dan membenci seperti para imam dan orang-orang Farisi. Amen.










Ditulis dan disunting ulang dari Renungan BAKI PGI 2023, tulisan Pdt. Kinurung Maleh (Sinode GKE)

Komentar