Khotbah/Jamita Minggu Paskah, 09 April 2023. Dibangkitkan Bersama Yesus Kristus (Kolose 3: 1 - 4)
Jamita Minggu Paskah, 09 April
2023
DIBANGKITKAN BERSAMA YESUS KRISTUS
(DIPAHEHE
RAP DOHOT JESUS KRISTUS)
Evangelium: KOLOSE 3: 1-4,
Epistel : Psalmen 118: 14 - 21
I. Latar Belakang
Bila saat
ini kita merayakan paskah, itu artinya kita percaya bahwa sebagaimana
kebangkitan Yesus dari kematian, kelak kita juga akan dibangkitkan. Bagi
sebagian orang persoalan kebangkitan dari antara orang mati mungkin sudah
hintas, bahwa kebangkitan semata-mata adalah anugerah Allah. Namun dipihak lain
masih ada saja yang merasa bahwa untuk sampai kepada keselamatan kekal
merupakan hasil dari usaha dan perjuangan manusia.
Ribuan
tahun lalu hal ini juga adalah pertanyaan yang mengganggu pikiran jemaat Kolose
Untuk itu Paulus turut memberikan kontribusi pengajaran terhadap iman mereka. Pada
saat Paulus dalam penjara di Kota Roma, ia menulis surat kepada jemaat di Asia kecil
(sekarang wilayah Turki dan sekitarnya) yakni Kolose, Filipi dan Efesus, juga
surat pribadinya kepada Filemon. Meskipun Kolose tidak begitu jauh dari Roma
namun Paulus belum pernah ke kota tersebut. Melalui Epafras, mitra kerjanya
yang berasal dari Kolose, Paulus mendapat informasi bagaimana kondisi kehidupan
spiritual jemaat Kolose Jemaat Kolose kemungkinan dibangun oleh Epafras dan
mengalami kemajuan dari segi kuantitas Namun kualitas iman mereka labil akibat
terkontaminasi ajaran Gnostik yang disebar oleh para bidat atau
pengajar-pengajar sesat.
Bidat-bidat
kafir tersebut mengatakan bahwa untuk mendapat keselamatan yang sempurna dan
kekal tidak cukup hanya dengan percaya kepada Yesus Kristus saja. Diperlukan
bantuan supranatural lain dan Yesus hanyalah salah satu dari pemilik
supranatural tersebut. Selanjutnya dikatakan bahwa untuk memperoleh keselamatan
juga wajib melakukan praktik sejumlah peraturan agama seperti mewajibkan sunat,
memelihara hari raya Yahudi dan tunduk pada ketentuan hari Sabat. Mereka juga
melakukan kehidupan asketik/mengasingkan diri dan menyiksa diri dengan
mematikan keinginan daging, berpantang pada makanan yang dianggap najis dan
tidak menikah. Semua itu dianggap mempunyai fungsi yang sejajar dengan ketaatan
kepada Yesus agar sampai pada keselamatan kekal. Mendengar informasi dari
Epafras tersebut, Paulus merasa kehidupan rohani jemaat Kolose sedang terancam
(Kol 2: 8), sehingga ia merasa penting untuk mengirim surat kepada mereka (Kol.
1:7, Kol. 2:1, Kol. 4:12). Rekan Paulus yang bernama Tikhikus diutus Paulus
membawa surat ini ke Kolose (Kol 4: 7).
Dalam
suratnya, Paulus tidak merinci konteks masalah yang sedang terjadi saat itu,
karena para pembacanya sudah memahami persoalan. Dengan tegas Paulus
mengatakan:
-
Kepenuhan Allah hanya ada didalam diri Yesus
(1: 19, 2: 9)
-
Bukan sunat jasmani (Kolose 2: 11) yang
dibutuhkan untuk menerima keselamatan kekal, melainkan sunat rohani atau pelepasan
akan tubuh dari perbuatan dosa, dengan cara menghayati hidup baru dalam Kristus.
-
Asketisme diskesis, olah tubuh/raga atau
latihan fisik) dipahami sebagai sikap mengasingkan diri atau menjauh dari
kehidupan dunia. Mereka harus menjauh dari keindahan dan kenikmatan duniawi
(menikah, harta benda, makanan tertentu, dll) yang diyakininya akan membawa
manusia pada penderitaan atau penghalang untuk mencapai kebahagiaan kekal. Cara
hidup seperti itu adalah sia-sia (Kol 2: 23). Yesus sangat mengasihi dunia ini
sehingga la sendiri datang untuk menebus dosa dunia. Manusia justru diutus ke
tengah-tengah keluarga (Kol 3: 18-21), di lingkungan kerja (Kol. 3:2-4: 1)
dalam jemaat (Kol. 4:2-4) dan dalam seluruh aktifitas kehidupan (Kol 4:5-6). Dunia
ini tidak jahat, namun manusia itu sendiri yang harus menanggalkan perilaku
jahat di dalam dirinya sebagai respon atas keselamatan yang telah diterima
dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
II.
Penjelasan Nats
Ayat 3:
1-2. Pasal 3 ini dimulai dengan ucapan 'karena
itu carilah perkara yang di atas... kalimat ini merupakan lanjutan dari
Kolose 2: 16-23, sebab kurang lebih 1100 tahun lamanya, Alkitab ditulis dalam
bentuk narasi tanpa memiliki penomoran ayat per ayat. Pada bagian sebelumnya
dicatat bahwa Paulus mengajak orang Kolose untuk memperhatikan perkara yang di
atas (kehidupan kekal), tanpa menjauhkan diri dari dunia dengan cara hidup
asketis/mengasingkan diri.
Paulus
mengkritik para bidat yang mengartikan mencari perkara hidup kekal dengan
menjauhkan diri dari kenikmatan dunia, melakukan sunat, memelihara
peraturan-peraturan ibadah dan menyembah allah lain sambil menyembah Yesus. Praktik
sinkretisme diyakini sebagai jalan menuju keselamatan yang kekal. Di sini
Paulus mengingatkan jemaat Kolose tentang teologi "karena" bukan
teologi "supaya". Manusia beribadah dan berbuat baik bukan supaya
melainkan karena telah memperoleh keselamatan Ketaatan beribadah dan perbuatan
baik dilaksanakan sebagai implementasi rasa syukur kepada Allah Bahwa dalam
rangka mencari perkara di atas, tidak ada kaitannya dengan berpantang makanan,
melakukan sunat, tunduk dibawah peraturan-peraturan ibadah, dll. Melainkan
percaya secara utuh kepada Kristus Yesus. Sebagaimana tertulis dalam Roma
14: 17 "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi
soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus"
Di dalam Kristus Yesus-lah penderitaan dan
kelemahan dilepaskan sehingga manusia memperoleh kemuliaan Yesus sudah mati dan
tidak ada lagi pengorbanan diatas atau melebihi pengorbananNya, oleh sebab itu
usaha untuk menyiksa diri bukanlah respon yang tepat sebagai orang yang sudah
ditebus Kristus. Melainkan manusia justru di utus ke dunia ini, dalam
kehidupannya sehari-hari untuk bersikap sebagai orang-orang tebusan yang
bangkit dari perilaku lama menjadi perilaku yang benar. Selayaknya manusia yang
lahir baru, menyunat /melepaskan perilaku buruknya dan hidup baru dalam
Kristus.
Bila dikatakan
dalam ayat 2, "jangan memikirkan
perkara di bumi..." hal itu bukan berarti Paulus tidak menghargai
dunia ini, melainkan peringatan agar kita mampu memilih dan memilah hal-hal apa
yang harus kita perhatikan dan kita perjuangkan di dunia ini. Kalau itu terkait
dengan perlakuan yang mencerminkan kemurnian ajaran Kristus, mari pertahankan
dan laksanakan dengan baik. Namun bila bertentangan dengan kehendak Allah dan
tidak ada kaitannya untuk memperoleh keselamatan yang kekal, maka
tinggalkanlah.
Selanjutnya
dikatakan Yesus "duduk di sebelah
kanan Allah (Latin, Dextera Domini). Kalimat ini adalah bahasa metafora
atau kiasan seperti "tangan kanan" yang berarti orang kepercayaan
atau yang diberi kuasa lebih
Ada
sejumlah orang yang mempertanyakan arti kalimat duduk di sebelah kanan Allah'
ini, sebab dengan Kristus duduk di sebelah kanan Allah maka sepertinya ada dua
Allah yang dibicarakan di sini. Thomas
Aquinas teolog abad pertengahan memberi jawaban untuk dua pertanyaan
dibawah ini:
1. Kalau Allah adalah
Roh (Yoh. 4: 24) dan tidak bertubuh, maka bagaimana mungkin istilah "duduk
di sebelah kanan" dapat digunakan di sini, sebab duduk itu mengacu kepada
sikap tubuh.
2. Kalau
dikatakan bahwa Kristus duduk di sisi kanan, apakah artinya Bapa duduk di sisi
kiri Kristus? Sepertinya tidak mungkin demikian.
Aquinas menjelaskan bahwa
Gereja mengartikan istilah 'duduk di
sebelah kanan Allah Bapa' jangan diartikan secara harfiah sebab maksud "duduk
(Yunani, kathizo)" sesungguhnya adalah tidak terbatas dengan
pengertian duduk sebagaimana kita pahami pada dua orang yang duduk
bersebelahan. Karena kata 'duduk' sendiri mempunyai arti yang lebih luas dari
sekedar posisi dimana meletakkan tubuh kita di kursi/tempat duduk. Begitu juga
dengan istilah "tangan kanan", tidak dapat diartikan secara harfiah
melainkan dalam bentuk metafora, sebagai kiasan untuk kemahakuasaan Allah.
Berada di sebelah kanan diidentifikasikan sebagai keadaan dalam tempat
kehormatan atau istimewa. Misalnya dalam perumpamaan Yesus tentang domba dan
kambing pada akhir jaman akan dipisah. Domba di sebelah kanan Allah dan dan
kambing di sebelah kiri (Mat. 25:32).
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan
Calvin mengenai pernyataan Kristus duduk di sebelah kanan Allah Bapa serta
dengan mengatakan bahwa la ditetapkan pada pemerintahan atas langit dan bumi,
yang berkuasa selama-lamanya (everlasting).
Demikian juga dikatakan oleh Damaskinus "Kita tidak berbicara tentang
sebelah kanan Allah Bapa sebagai sebuah tempat, sebab bagaimanakah mungkin
sebuah tempat ditandai sebagai sebelah kanan-Nya, padahal Diri-Nya sendiri
berada mengatasi segala tempat (omni
present)?. Sebelah kanan dan kiri merupakan sesuatu yang ditentukan oleh
suatu batasan. Maka dari itu arti ucapan sebelah kanan Allah Bapa, jangan
dipahami dalam arti posisi, melainkan dalam pemahaman "status" yakni
sebagai kemuliaan dan penghormatan bagi Allah.
Demikianlah
menjadi jelas kepada kita, apa yang dimaksud dengan Yesus Kristus yang duduk di
sebelah kanan Allah, bukan diartikan secara harfiah sebagai posisi/letak melainkan
sebagai kiasan yang berarti kehormatan, kemuliaan dan kuasa pemerintahan. Kalimat
duduk di sebelah kanan juga berarti bahwa Yesus Kristus terus berkuasa
Pemerintahannya tidak terbatas pada tugas sebagai Raja, melainkan Ia juga
adalah Imam Besar untuk selama- lamanya. Ketika di atas salib la berseru
"sudah selesai" Ia tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa karya-Nya
sebagai Imam Besar telah berakhir, akan tetapi hendak mengatakan bahwa
penderitaan-Nya dalam rangka menebus dosa manusia telah mencapai tetelestei
(Yunani) yaitu berakhir dan menjadi pemenang. Jadi maksud dari kalimat duduk di
sebelah kanan Allah berarti Yesus kembali kepada kemuliaan-Nya yang kekal yang
berkuasa selamanya.
Ayat 3-4.
"Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di
dalam Allah." Kata "mati" dan" tersembunyi juga adalah
bahasa kiasan. Maksudnya didalam baptisan kudus manusia lama kita telah mati
dan dibangkitkan kembali. Baptisan menunjukkan bahwa kita pun ikut mengalami
kematian atas dosa, bersama dengan Kristus. Jadi, baptisan bukan sekedar tanda
melainkan kenyataan bahwa kita memiliki hidup yang baru. Dalam Rm. 6: 4 orang
yang sudah baru berarti dia sudah mencari dan memikirkan hal-hal yang
"diatas" yakni hal yang terkait dengan kebangkitan manusia dari
perilaku hidup yang menjauh dari Tuhan menjadi perilaku baru dan bangkit untuk
menjadi pribadi yang menaati firman-Nya secara benar.
III
APLIKASI
1. Umat
Kristen tentunya berharap, kelak di akhir zaman kita akan berada di sebelah
kanan Allah bersama-sama orang yang diselamatkan. Tidak hanya itu, umat pada
zaman dahulu juga menginginkan itu namun mereka jatuh kepada pemahaman
sinkritisme. Orang-orang Kristen pada abad I s/d IV cenderung bersikap rasional
Namun di sisi lain, keyakinan mereka juga bersifap mistis yang mengajarkan
kelepasan dan keselamatan harus dikejar dengan usaha pertarakan (askese).
Agama
demikian biasa disebut Pantheisme yang dualistis. Yakni meyakini bahwa alam
semesta ini memiliki roh dan kuasanya masing-masing. Hingga saat ini, kita
diajak bercermin diri apakah masih ada jemaat yang meyakini keselamatan lain di
luar kuasa Kristus. Sebab sebagaimana jemaat abad pertama yang tergoda mulai
dari orang yang tidak berpendidikan sampai sekelas Plato ikut terpengaruh
ajaran tersebut. Maka kita yang hidup saat ini juga perlu mawas diri. Perlu
memiliki kecerdasan iman. Bahwa tidak ada keselamatan di luar dari Yesus
Kristus. Yesus berkata "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.
Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku (Yoh.
14:6).
2. Bangkit menanggalkan
paradigama lama. Istilah safety first (utamakan keselamatan) biasa dipakai di
lokasi kerja yang rawan bahaya. Untuk merasa aman sebagian orang
mengasuransikan benda berharga miliknya, kesehatannya dan juga mengansuransikan
jiwanya. Ucapan selamat pagi, selamat siang dan selamat malam juga akrab bagi
kita sebagai ungkapan harapan agar sepanjang hari kita jauh dari mara bahaya.
Bila untuk hal-hal duniawi kita memberi perhatian yang sungguh-sungguh,
tentunya untuk keselamatan kekal haruslah menjadi yang prioritas. Maka dalam
perayaan paskah ini kita diajak untuk memperbaharui attitude/sikap kita dari
manusia lama menjadi manusia baru, meneladani ucapan Paulus dalam 2
Korintus 5:17 "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ta adalah ciptaan baru
yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang "
Amin.
Komentar
Posting Komentar