Khotbah, Minggu Palmarum, 2 April 2023 - MARKUS 11: 1 - 11

 

Bahan Sermon Minggu Palmarum, 2 April 2023

Evangelium    : Markus 11:1-11       Epistel: Yesaya 50:4-9a                    

HOSANA, DI TEMPAT YANG MAHATINGGI

I.                   PENDAHULUAN

Minggu Palmarum adalah minggu sebelum Paskah. Perayaan di Minggu Palmarum ini merupakan peristiwa masuknya Yesus ke kota suci Yerusalem tepat seminggu sebelum Yesus disalibkan. Minggu Palmarum disebut juga pembuka pecan Suci yang berfokus pada Pekan terakhir Yesus di Kota Yerusalem. Yesus memasuki Kota Yerusalem diberitakan di Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Namun diantara itu Injil Markus adalah Injil yang paling tua. Secara garis besar, Injil Markus menceritakan nada pengharapan kedatangan Mesias yang menyelamatkan orang Yahudi dari penjajahan Romawi. Bagi mereka Mesias adalah sosok raja yang gagah perkasa, membawa pedang dan menunggangi kuda gagah untuk memerangi bangsa Romawi

II.                PENJELASAN NATS

Nats ini merupakan puncak kisah kehidupan Tuhan Yesus yang dianggap sebagai raja oleh bangsa Israel sebelum Yesus disalibkan. Yesus masuk ke Yeruslaem dengan naik keledai betina yang masih muda. Keledai identic dengan hewan pengangkat beban. Dari hal ini, nubuatan nabi Zakharia tergenapi yaitu “Lihat rajamu datang kepadamu mengendarai seekor keledai beban yang muda” (Zak. 9:9). Melalui kehadiran Yesus di Yerusalem semakin ditunjukkan Yesus diri-Nya sebagai Raja dan Mesias yang dinubuatkan para nabi. Yesus mengetahui bahwa pekerjaan-Nya, pelayanan-Nya di dunia akan berakhir maka Ia datang ke Yerusalem serta ditunjjukan diri-Nya sebagai Raja dan Mesias yang dinubuatkan itu. Jika sebelum-sebelum-Nya Yesus berpesan kepada murid-Nya untuk menutupi jati diri Yesus, namun sekarang semua akan diperlihatkan-Nya. Kehadiran Yesus disalah artikan oleh orang-orang Yahudi pada masa itu. Seorang raja yang diharapkan untuk hadir dengan kuda yang gagah malah mengendarai keledai yang tak memiliki kegagahan dan keperkasaan. Berbeda dengan kuda yang melambangkan kekuatan, kegagahan dan kehormatan. Seorang raja tidak mengendarai keledai untuk berperang membebaskan bangsanya dari penjajahan. Karena keledai digunakan untuk melakukan pekerjaan yang biasa saja sebab keledai itu dianggap lebih rendah dari kuda. Namun ada dua hal yang mau ditunjukkan dari kehadiran Yesus yaitu:

1.      Yesus menggunakan seekor keledai, binatang hina, jelek dan lemah, yang belum pernah ditunggangi orang. Juga keledai ini adalah keledai pinjaman. Kemudian alas yang dipakai-Nya untuk punggung keledai itu juga sangat sederhana, orang-orang menaruh pakaian mereka diatas punggung ke;edai dan begitulah Ia duduk diatasnya (ay. 7). Kemudian juga orang-orang yang mengikuti peristiwa itu hanyalah orang-orang yang sederhana. Yang mereka tunjukkan hanayalah menghamparkan pakaian mereka di jalan (ay.8). Semua itu menandakan kerendahan hati-Nya. Maka kita diajarkan untuk tidak memikirkan hal-hal yang tinggi, tetapi untuk menempatkan diri dalam kedudukan yang rendah.

2.      Yesus hendak menunjukkan bahwa Ia penuh dengan kuasa, Ia sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana-Nya yang gagal. Seperti dalam ayat 3, Yesus menyuruh murid-murid untuk meIa menunjukkan kuasa-Nya atas makhluk ciptaan-Nya dengan mengendarai seekor keledai yang belum pernah ditunggangi. Ini menandakan adanya penundukan ciptaan yang lebih rendah di bawah kuasa manusia yang dinyatakan melalui pekerjaan Kristus (Mzm. 8:6-7; Bnd. Ibr. 2:8).

Ketika Yesus berjalan masuk Kota Yerusalem sebagai “raja” ada kemuliaan dan keagungan, banyak orang yang menghemparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Ada yang berjalan di depan Yesus dan ada yang berjalan di belakang Yesus, semuanya berseru “Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Ay. 9). Hosanna berasal dari bahas Ibrani hosyiana dari kata hosya yang artinya selamat dan kata na artinya memohon. Dalam tradisi Israel, Hosana adalah aklamasi (pernyataan lisan) popular yang bernada kemenangan. Dimana aklamasi itu diteriakkan pada saat Hari Raya Pondok Daun. Juga dengan melambaikan dahan-dahan serta teriakan Hosana adalah gerakan spontan yang menunjukkan rasa hormat. Mereka sangat bersukacita dengan kedatangan Yesus. Semua dilakukan mereka untuk menunjukkan sukacita mereka. Karena banyak tanda-tanda yang telah dilakukan Yesus, yang lumpuh dapat berjalan, yang buta dapat melihat dan banyak lagi. Mereka sangat bersukacita sebab harapan mereka akan kedatangan Mesias itu terjadi, sehingga membuat mereka menyerukan dengan kuat “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan”, namun kemudian mereka pulalah yang mengatakan “salibkan Dia”.

III.             PENUTUP

Banyak yang sudah mengenal dan mengetahui perbuatan serta mujizat yang dilakukan Yesus, baik pada masa itu maupun masa sekarang. Namun, pengenalan dan pengetahuan akan Kristus itu masih kabru sehingga banyak yang salah mengartikan kehadiran Yesus. Kita sudah mengenal Dia dari pengakuan Alkitab dan pengalaman hidup kita sehari-hari bahkan dari pemberitaan Firman. Biarlah semua itu menjadi dasar kita untuk memuji Tuhan yang berada di kediaman-Nya yang maha tinggi itu. Lewat pengenalan kita yang benar mampu juga mempengaruhi orang lain untuk memuji Dia yang ada di tempat maha tinggi itu. Sehingga dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan” bagi kemuliaan Allah, Bapa. (Fil. 2:10-11).

Dari kedatangan Yesus juga ke Yerusalem dengan naik keledai menunjukkan bahwa kerendahan hati Yesus, kesederhanaan-Nya yang patut ditiru serta bukan seperti raja lain yang datang bawa kuda namun Yesus bawa keledai, bukan untuk mengusir penjajahan Romawi tetapi untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa. Dan terakhir adalah Cara pandang yang sederhana akan membawa kita pada sukacita. Ketika kita terlalu memikirkan sesuatu yang lebih besar akan membuat kita mudah untuk kecewa. Sehingga berpikirlah sederhana, bersikaplah sederhana supaya sukacita kita tetap melimpah walau di tengah banyaknya pergumulan hidup. Dan biarlah yang terjadi di dalam hidup ini semakin meneguhkan iman percaya kita kepada Dia sang pemilik hidup.

 

 

 

 

Komentar